Beberapa bulan terakhir ini, bangsa
kita dihadapkan kepada masalah-masalah yang terus bermunculan. Masalah suku,
agama, ras dan antar golongan pun seakan memenuhi media-media yang tersedia di
Indonesia. Politik yang amoral merupakan dalang dimana terjadinya
permasalahan-permasalahan yang ada. Pantaslah Muhammad Abduh pernah berkata : “Apabila kebenaran datang dari pintu depan,
maka politik akan mendesak kebenaran mundur ke pintu belakang, maka terkutuklah
orang-orang yang berpolitik”. Dan lebih parahnya adalah media yang
seharusnya menyampaikan yang haq dan bathil nya permasalahan negeri ini dengan
sejujur-jujurnya, seakan menyembunyikan hal tersebut. Bahkan kebanyakan
daripada mereka bertengkar satu-sama lain hanya demi kepentingan yang nyatanya
merugikan masyarakat luas. Media A mengatakan A, media B mengatakan B. Media A
mendukung si A disaat yang bersamaan media B menjatuhkan si B. Kita pun dibuat
bingung, mana sih yang benar dan mana
yang salah sehingga opini publik pun berkembang luas menyebabkan terjadinya perdebatan
disana-sini, pertengkaran disana-sini, bahkan mungkin bisa jadi nanti
perperangan disana-sini (mudah-mudahan tidak terjadi).
Teringat kembali oleh kita
cita-cita Pasca Reformasi 1998 diharapkan negeri ini akan menjalankan demokrasi
yang sebenar-benarnya dapat berdikari dengan sebenar-benarnya, sekarang
kenyataannya menjadi negara yang semakin semraut, semakin kacau, semakin tidak
tentu arah dan parahnya semakin banyak asing yang menunggangi Indonesia
layaknya kerbau bodoh yang hanya disuruh untuk membajak sawah,diberi makanan
sedikit dan hasilnya dipanen oleh asing-aseng tersebut. ITU-lah gambaran negara
kita saat ini, begitu parahnya. Mungkin pantaslah Allah menimpakan berbagai
bencana kepada Indonesia pasca reformasi tersebut, agar manusia-manusia zalim
yang meringkuk di kekuasaan itu untuk bertafakur terhadap kesalahan apa yang
telah dibuat dengan tangannya terhadap negara ini. Sekaligus agar seluruh
bangsa Indonesia sekarang sadar, bahwa pasca reformasi 1998 sesungguhnya
bukanlah awal kebahagiaan negara kita, tetapi awal kehancuran bangsa ini kedepannya.
Kebahagiaan yang diangan-angani pemimpin kala itu hanya OMONG KOSONG!. Mereka
hanyamenginginkan kejayaan “tanpa adanya campur tangan Tuhan” yang saat ini
berkembang luas di negara-negara sekuler-liberalis, negara komunis,negara-negara
di Eropa, negara-negara di Amerika. Kita sebagai negara yang berketuhanan, yang
memiliki IDEOLOGI pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa tidak cocok dengan hal
tersebut. Laju kehidupan bangsa ini, harus berbanding lurus dengan ketaatan
bangsa ini kepada Tuhannya dengan keyakinan yang dianutnya masing-masing. Hal
itu lah kebahagiaan kita yang sebenarnya. Kalau hanya mengejar yang tampak
(materialistis), niscaya suatu bangsa tidak akan pernah puas. Faktanya, Kita
dapat melihat bangsa barat yang hatinya saat ini kosong. Tidak ada kepuasan
sedikitpun didalam hatinya, mereka mencoba memuaskan hati dengan berekreasi ke
negeri” nan indah, namun hati mereka jua tak kunjung terpuaskan Hal itu karena
hati mereka telah tertutup diakibatkan kebanyakan dari mereka beragama, namun
tidak berketuhanan. Mereka melanggar segala larangan Tuhan, seperti berzina,
mabuk-mabukan, mengadakan kerusakan di muka bumi, sehingga Allah mengutuk hati
mereka keras menjadi batu bahkan lebih keras lagi. Apakah ini yang kemajuan
yang diharapkan bangsa Indonesia ini?
Mungkin banyak yang mengatakan
: “Bukan, bukan hal tersebut yang diinginkan bangsa kita, karena tidak sesuai
dengan Pancasila yang merupakan Ideologi bangsa ini!!”. Tapi faktanya yang
sekarang terjadi adalah bangsa Indonesia mengarah kepada “Kejayaan tanpa Ketuhanan” atau bisa disimpulkan “kehancuran ideologi bangsa Indonesia”.
Semenjak dahulu kala, bangsa
kita tidak pernah hidup tanpa adanya ideologi didalam diri mereka. Semenjak
kerajaan kutai sampai kerajaan demak, mereka memiliki ideologi masing-masing
dan mengamalkannya dengan teguh. Oleh karenanya lah dapat kita lihat sebelum
para Penjajah yang memiliki semboyan 3G (Gold (Kekayaan), Glory(Kejayaan), dan
Gospel(Menyebarkan agama kristen)) masuk dengan keji ke negara Indonesia,
mereka telah mencapai puncak kejayaan pada zamannya. Masuknya penjajah pun
diakibatkan karena mereka tidak lagi mempertahankan teguhnya ideologi mereka,
sehingga mereka tercerai-berai, lebih mementingkan nasib dirinya dan orang
terdekatnya dari pada nasib bangsanya. Pada saat ini kita perhatikan lagi
dengan seksama, bahwa banyak pemimpin yang lebih mementingkan diri dan
keluarganya daripada negara kita ini!. Kebanyakan dari mereka dengan teganya
membiarkan saja rakyat menjadi bodoh,miskin,kelaparan,rusak moral, rusak
akidah, rusak ideologi. Maka dapat dikatakan bahwa, era-kolonial mungkin telah
kembali lagi ke Indonesia. Tapi era-kolonial ini dengan wajah baru, bolehlah
kita namakan neo-colonialism. Tidak
menyerang negara kita dengan armada-armada perang terkuat, akan tetapi
menyerang negara kita dengan merusak sistem-sistem yang terdapat didalam
Indonesia. Merusak pertumbuhan kader-kader penerus bangsa Indonesia.
Sedikit bercerita, sesungguhnya
rencana ini telah jauh dipersiapkan para kapitalis dan komunis untuk mengobrak-abrik
bangsa ini. Pada tahun 1998 ketika terjadinya reformasi, sebenarnya kapitalis
dan komunis mengambil celah ditengah hiruk-pikuknya bangsa ini. Bahkan sebelum
bpk. Soeharto turun, bangsa asing telah memainkan kartu truff mematikannya, “suntikan
dana IMF” ke Indonesia. Disamping itu, kasus BLBI adalah celah masuknya
antek-antek komunis di Indonesia. Alangkah malangya kita, hanya saja kita
dibutakan sejarah dan tidak mengambil ibrah dari fakta yang ada.
Sekarang bangsa ini bisa
dikatakan dalam keadaan “darurat” segi ideologi. Ideologi pancasila yang kita
pegang teguh, saat ini mulai diombang-ambingkan oleh ideologi-ideologi luaran
yang tidak memiliki kualitas, kapabilitas dan tidak cocok dengan bangsa kita ini.
Sebut saja ideologi liberalis, ideologi sekuler, bahkan ideologi komunis yang
telah diatur di TAP MPR sebagai ideologi yang terlarang pun telah berkembang
luas didalam bangsa ini. Adanya pengkerdilan terhadap agama tertentu dengan
menggemborkan keterkaitan isu terorisme dan agama islam seharusnya menambah “list”
kecurigaan kita, bahwa bangsa ini memang ingin dijayakan tanpa adanya
ketuhanan. Semenjak zaman penjahan dahulu, umat islam adalah umat yang paling
lantang melawan apa yang kita sebut kolonialisme tersebut. Tetapi saat ini,
umat islam ‘dituduh’ sebagai makar ketakutan di Indonesia (khususnya) dan
didunia (umumnya). Apakah itu logis? Tentu kita tidak akan pernah lupa dan jangan
sampai lupa, agama mana yang melawan penjajahan hingga titik darah penghabisan
di indonesia ini, dan agama mana yang menjajah bangsa kita.
Sayang nya, musuh-musuh anti-agama
tersebut menjalankan rencana yang sangat matang, sangat tersusun rapi dengan
menjauhkan penganut agama islam (mayoritas) dari agamanya dengan
mengiming-imingkan dunia didalamnya. Dan kebanyakan muslimin pun tergiur dan
mengikuti hal tersebut. Sehingga 85% dari muslimin Indonesia saat ini, kebanyakan
hanya mengaku beragama namun belum berketuhanan. Dan perancang gerakan ini pun,
tersenyum simpul melihat rencana untuk menjadikan bangsa kita “jaya tanpa
berketuhanan” berjalan dengan sangat baik, tanpa cacat. Masyaallah!. Melihat ini
saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad Saw. Rasulullah pernah bersabda : “adakalanya
suatu saat nanti kalian akan menjadi hidangan yang akan diserbu oleh
lawan-lawan kalian”, lalu sahabat bertanya : “wahai nabi, apakah saat itu
jumlah kami sedikit?”. Rasulullah bersabda : “Tidak, bahkan saat itu kalian
adalah mayoritas. Namun saat itu kalian seperti buih dilautan yang luas. Saat
itu Allah akan menjadikan musuh-musuh kalian, tidak takut sedikitpun akan
banyaknya kalian. Hal itu disebabkan karena penyakit wahani”. Sahabat bertanya
: Ya Rasul, apakah itu penyakit wahani?”. Rasulullah bersabda : “Penyakit
terlalu mencintai dunia!”.
Begitu rusaknya ideologi kita
saat ini. Sangat rusak. Lantas hal apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan
keadaan bangsa ini?
Saya berpendapat sekaligus
menegaskan dan mengajak, marilah kita kembali kepada ideologi kita, ideologi pancasila. Didalam ideologi kita sendiri,
telah disebutkan bahwa kita harus “berketuhanan yang maha esa”. Dalam menjalani
hidup, perlulah perasaan bahwa kita selalu diawasi oleh Tuhan kita. Tidak
penting agama yang engkau anut!. Tapi jalanilah agama mu itu dengan
sebaik-baiknya, dan jalankanlah toleransi. Toleransi bukan berarti aku
beribadah dimasjid, engkau yang beragama nasrani beribadah dimasjid. BUKAN. Itu
namanya pemaksaan. Toleransi adalah aku tidak mengganggu agamamu, dan engkau
tidak mengganggu agamaku, dan kita saling tolong-menolong dalam kebaikan.
Cukuplah kita bersatu karena kita membela tanah air yang sama, kita bersama
membela sumber daya alam yang dilimpahkan tuhan untuk kita. Itulah toleransi
namanya. Kami umat islam tidak memerlukan khilafah atau lainnya di Indonesia
ini. Cukuplah Ideologi Pancasila yang kita jalankan. Tapi pastikanlah untuk
menjalankannya tidak setengah-setengah. Ideologi yang dibangun atas pemikiran
tokoh-tokoh besar yang memiliki ideologi berbeda, namun dapat memayungi seluruh
bangsa Indonesia. Itulah pancasila kita. Namun kita semua masih saja bisa
dibodoh-bodohi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan, sehingga kita yang
tadinya dipersatukan karena pancasila, diadu domba agar kita bersama-sama
menghancurkan negara ini. Teruslah kita bersama-sama bercermat diri dan
memperhatikan yang benar serta salahnya negara ini, kita bukan bangsa bodoh
lagi. Dan marilah berbenah diri, mungkin ada ibrah yang dapat diambil setelah
hal ini terlewati.
Mantep tenan artikele,,, joss
BalasHapus