Rabu, 18 Januari 2017

BENARKAH RAKYAT INDONESIA SUDAH CERDAS?



BENARKAH RAKYAT INDONESIA SUDAH CERDAS?
(dikutip dari buku :”REPUBLIK BOHONG” karya : A.M. Waskito)

Apakah rakyat Indonesia telah cerdas? Inilah pertanyaan yang paling banyak dipertanyakan dinegeri ini. Banyak yang berkata : “3,5 abad sebelum kita merdeka, kita adalah negara bodoh, rakyat-rakyat pribumi tidak bersekolah. Yang bisa bersekolah kalau tidak kasta I (Warga Belanda), kalau tidak kasta II (Orang cina,  india, pedagang-pedagang sukses, anak bupati, anak kepala pemerintahan kala itu). Jangankan untuk belajar menghitung, untuk baca-tulis pun tidak bisa.” Lalu sekarang bagaimana? Apakah dengan keadaan sekarang, dimana anak-anak Indonesia telah mampu menyabet medali-medali emas dalam kejuaraan internasional, dapat disebut bahwa rakyat Indonesia telah cerdas? Sama saja rasanya antara 3,5 abad sebelum merdeka dengan sekarang. Kalau dahulu baca-tulis, hitung-menghitung adalah salah satu indikator hal yang menakjubkan, maka dizaman sekarang salah satu indikator hal yang menakjubkan adalah seseorang dapat menemukan teknologi yang terbarukan. Dan sama saja, rakyat indonesia masih saja tertinggal dari negara lainnya sehingga dapat diindikasikan rakyat indonesia masih lemah akan wawasan, kesadaran dan pengetahuan sehingga Indonesia saat ini, kurang lebih sama seperti 350 tahun yang lalu. Dan realitanya yang terjadi saat ini bangsa kita masih saja menilai kemungkaran adalah sebuah kebenaran, dan sebuah kebenaran adalah sebuah kemungkaran, menandakan akan kurang cerdasnya kita. (Contohnya terkait FPI, aksi damai, aksi tandingan, dll akhir-akhir ini, red-).

Masih banyak indikator lain terkait hal ini, yaitu :
  1. Para Ahli menyebut orang Indonesia memiliki memori yang sangat pendek, bahkan Menteri Ekonomi saat ini, Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa Indonesia memiliki short memory lost
  2. Pada tahun 2009, Max Sopachua (Tim sukses SBY kala itu) mengatakan : “Masyarakat tidak tahu menahu soal NEOLIB yang hanya rakyat tahu hanyalah BLT, sekolah gratis, kesehatan gratis dsb. *coba pembaca search, apasih itu Neolib, barangkali tidak tahu juga*
  3. Banyak tokoh-tokoh nasional yang mengatakan kelemahan indonesia hanya dua : Kelemahan Ekonomi dan Kebodohan. (Tapi bagi saya saat ini, kelemahan kita ada 3, ditambah Ketiadaan nilai Kepercayaan dan Moral)
  4. Menurut Indeks kualitas hidup manusia yang dikeluarkan UNDP, Indonesia berada pada urutan ke-112 bersaing dengan negara yang baru akan bangkit, seperti laos, myanmar, kamboja
  5. Potensi peminat pembaca di Indonesia hanya 0,5 % dari total penduduk negara Indonesia, jadi berkisar sejuta orang yang suka membaca. Padahal dinegara maju seperti eropa, membaca adalah hal yang harus dilakukan. Tiada membaca, tiada mendapat informasi. 
  6. Dalam perpolitikan, masyarakat Indonesia masih bisa disogok dengan uang untuk memilih pemimpin A. Padahal itu hanya semu belaka, tiada arti.
  7. Sebagian besar masyarakat Indonesia terkena penyakit Minder yang akut. Mereka malu untuk menjadi dirinya sendiri, dan lebih meniru bule dan sok kebarat-baratan 
  8.  Di Indonesia tidak pernah terjadi gerakan rakyat semesta. Contohnya saja dalam Gerakan Anti G30SPKI yang terlibat hanya mahasiswa, santri dan militer, nah yang lain kemana? Tentu memposisikan diri mereka menjadi “konsumen”. Sehingga lebih suka menunggu hasil dari pada menjadi pionir pergerakan.
  9. Rakyat Indonesia senang menjadi PNS, bisa dianggap PNS adalah “The Indonesian Dream”, “Mimpi orang-orang Indonesia kebanyakan”
  10. Banyak yang mengaku untuk melawan korupsi. Tetapi kalau mereka diberi jabatan, ternyata mereka melakukan korupsi  yang sama. Bahkan bisa lebih gila dari koruptor sebelumnya, jadi koruptor itu hanya perbedaan soal kesempatan. alangkah mengerikan!
  11. Setelah merdeka dari kolonial Eropa dan Asia ternyata bangsa Indonesia tidak benar-benar merdeka. Kita menghadapi apa yang disebut Neo-Colonialism dengan cara mengeruk-ngeruk kekayaan negara kita sampe tidak tersisa.
Sehingga sudah seharusnya kita untuk sadar, bahwa apa yang kita sebut cerdas saat ini, ternyata kita sangat tertinggal jauh. Belum lagi terhadap birokrat-birokrat, politikus-politikus yang mengacaukan, membuat kerusuhan di negeri ini,asing dan aseng yang menguasai negara ini membuat kita lebih bodoh lagi. Dengan asing, saat ini kita layaknya tuan haji yang memiliki tanah, namun orang lain menyewa tanahnya lantas dibangun p abrik. Nah tuan haji tadi, hanya mendapatkan setoran tanahnya saja, sedangkan orang lain tersebut mendapatkan nikmat dari pabrik yang dibangun. Sedang limbah dari pabrik berserakan di tanah tuan haji. Yang lebih disayangkan adalah orang lain tersebut, menyebarkan pengaruh-pengaruh buruk dilingkungan sekitar tanah tersebut. Sehingga terpengaruhlah yang dilingkungan tersebut. Alangkah meruginya kita sebagai tuan haji. Oleh karenanya,  mari bersama-sama kita selalu belajar tentang bangsa ini, peduli terhadap birokrasi negeri ini, perpolitikan negeri ini, keadaan negeri ini dan juga peduli terhadap kebangsaan, terhadap kebhineka-an jangan ada intervensi dari setiap golongan (entah mengapa minoritas saat ini merasa lebih superior daripada mayoritas), jangan mudah diadu domba (pada dasarnya, ini adalah bangunannya “Neo-colonialism, Neolib”),dan terpenting adalah jangan tinggalkan kepercayaan apapun yang engkau anut, terutama muslim. Karena kitalah benteng terakhir bangsa ini, apabila seluruh umat islam berfahamkan “sekuler” di Indonesia ini, bukan tidak mungkin Komunis akan menjadi hal yang dominan, bahkan menjadi isme nomer satu di Indonesia ini. Cerdaskan lah diri, cerdaskanlah hati, dan cerdaskanlah moral. Insyaallah negerin ini menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allahumma aamiin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar