Selasa, 31 Januari 2017

INDONESIA “DARURAT” IDEOLOGI




Beberapa bulan terakhir ini, bangsa kita dihadapkan kepada masalah-masalah yang terus bermunculan. Masalah suku, agama, ras dan antar golongan pun seakan memenuhi media-media yang tersedia di Indonesia. Politik yang amoral merupakan dalang dimana terjadinya permasalahan-permasalahan yang ada. Pantaslah Muhammad Abduh pernah berkata : “Apabila kebenaran datang dari pintu depan, maka politik akan mendesak kebenaran mundur ke pintu belakang, maka terkutuklah orang-orang yang berpolitik”. Dan lebih parahnya adalah media yang seharusnya menyampaikan yang haq dan bathil nya permasalahan negeri ini dengan sejujur-jujurnya, seakan menyembunyikan hal tersebut. Bahkan kebanyakan daripada mereka bertengkar satu-sama lain hanya demi kepentingan yang nyatanya merugikan masyarakat luas. Media A mengatakan A, media B mengatakan B. Media A mendukung si A disaat yang bersamaan media B menjatuhkan si B. Kita pun dibuat bingung, mana sih yang benar dan mana yang salah sehingga opini publik pun berkembang luas menyebabkan terjadinya perdebatan disana-sini, pertengkaran disana-sini, bahkan mungkin bisa jadi nanti perperangan disana-sini (mudah-mudahan tidak terjadi). 

Teringat kembali oleh kita cita-cita Pasca Reformasi 1998 diharapkan negeri ini akan menjalankan demokrasi yang sebenar-benarnya dapat berdikari dengan sebenar-benarnya, sekarang kenyataannya menjadi negara yang semakin semraut, semakin kacau, semakin tidak tentu arah dan parahnya semakin banyak asing yang menunggangi Indonesia layaknya kerbau bodoh yang hanya disuruh untuk membajak sawah,diberi makanan sedikit dan hasilnya dipanen oleh asing-aseng tersebut. ITU-lah gambaran negara kita saat ini, begitu parahnya. Mungkin pantaslah Allah menimpakan berbagai bencana kepada Indonesia pasca reformasi tersebut, agar manusia-manusia zalim yang meringkuk di kekuasaan itu untuk bertafakur terhadap kesalahan apa yang telah dibuat dengan tangannya terhadap negara ini. Sekaligus agar seluruh bangsa Indonesia sekarang sadar, bahwa pasca reformasi 1998 sesungguhnya bukanlah awal kebahagiaan negara kita, tetapi awal kehancuran bangsa ini kedepannya. Kebahagiaan yang diangan-angani pemimpin kala itu hanya OMONG KOSONG!. Mereka hanyamenginginkan kejayaan “tanpa adanya campur tangan Tuhan” yang saat ini berkembang luas di negara-negara sekuler-liberalis, negara komunis,negara-negara di Eropa, negara-negara di Amerika. Kita sebagai negara yang berketuhanan, yang memiliki IDEOLOGI pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa tidak cocok dengan hal tersebut. Laju kehidupan bangsa ini, harus berbanding lurus dengan ketaatan bangsa ini kepada Tuhannya dengan keyakinan yang dianutnya masing-masing. Hal itu lah kebahagiaan kita yang sebenarnya. Kalau hanya mengejar yang tampak (materialistis), niscaya suatu bangsa tidak akan pernah puas. Faktanya, Kita dapat melihat bangsa barat yang hatinya saat ini kosong. Tidak ada kepuasan sedikitpun didalam hatinya, mereka mencoba memuaskan hati dengan berekreasi ke negeri” nan indah, namun hati mereka jua tak kunjung terpuaskan Hal itu karena hati mereka telah tertutup diakibatkan kebanyakan dari mereka beragama, namun tidak berketuhanan. Mereka melanggar segala larangan Tuhan, seperti berzina, mabuk-mabukan, mengadakan kerusakan di muka bumi, sehingga Allah mengutuk hati mereka keras menjadi batu bahkan lebih keras lagi. Apakah ini yang kemajuan yang diharapkan bangsa Indonesia ini?

Mungkin banyak yang mengatakan : “Bukan, bukan hal tersebut yang diinginkan bangsa kita, karena tidak sesuai dengan Pancasila yang merupakan Ideologi bangsa ini!!”. Tapi faktanya yang sekarang terjadi adalah bangsa Indonesia mengarah kepada “Kejayaan tanpa Ketuhanan” atau bisa disimpulkan “kehancuran ideologi bangsa Indonesia”.
 
Semenjak dahulu kala, bangsa kita tidak pernah hidup tanpa adanya ideologi didalam diri mereka. Semenjak kerajaan kutai sampai kerajaan demak, mereka memiliki ideologi masing-masing dan mengamalkannya dengan teguh. Oleh karenanya lah dapat kita lihat sebelum para Penjajah yang memiliki semboyan 3G (Gold (Kekayaan), Glory(Kejayaan), dan Gospel(Menyebarkan agama kristen)) masuk dengan keji ke negara Indonesia, mereka telah mencapai puncak kejayaan pada zamannya. Masuknya penjajah pun diakibatkan karena mereka tidak lagi mempertahankan teguhnya ideologi mereka, sehingga mereka tercerai-berai, lebih mementingkan nasib dirinya dan orang terdekatnya dari pada nasib bangsanya. Pada saat ini kita perhatikan lagi dengan seksama, bahwa banyak pemimpin yang lebih mementingkan diri dan keluarganya daripada negara kita ini!. Kebanyakan dari mereka dengan teganya membiarkan saja rakyat menjadi bodoh,miskin,kelaparan,rusak moral, rusak akidah, rusak ideologi. Maka dapat dikatakan bahwa, era-kolonial mungkin telah kembali lagi ke Indonesia. Tapi era-kolonial ini dengan wajah baru, bolehlah kita namakan neo-colonialism. Tidak menyerang negara kita dengan armada-armada perang terkuat, akan tetapi menyerang negara kita dengan merusak sistem-sistem yang terdapat didalam Indonesia. Merusak pertumbuhan kader-kader penerus bangsa Indonesia.

Sedikit bercerita, sesungguhnya rencana ini telah jauh dipersiapkan para kapitalis dan komunis untuk mengobrak-abrik bangsa ini. Pada tahun 1998 ketika terjadinya reformasi, sebenarnya kapitalis dan komunis mengambil celah ditengah hiruk-pikuknya bangsa ini. Bahkan sebelum bpk. Soeharto turun, bangsa asing telah memainkan kartu truff mematikannya, “suntikan dana IMF” ke Indonesia. Disamping itu, kasus BLBI adalah celah masuknya antek-antek komunis di Indonesia. Alangkah malangya kita, hanya saja kita dibutakan sejarah dan tidak mengambil ibrah dari fakta yang ada.

Sekarang bangsa ini bisa dikatakan dalam keadaan “darurat” segi ideologi. Ideologi pancasila yang kita pegang teguh, saat ini mulai diombang-ambingkan oleh ideologi-ideologi luaran yang tidak memiliki kualitas, kapabilitas dan tidak cocok dengan bangsa kita ini. Sebut saja ideologi liberalis, ideologi sekuler, bahkan ideologi komunis yang telah diatur di TAP MPR sebagai ideologi yang terlarang pun telah berkembang luas didalam bangsa ini. Adanya pengkerdilan terhadap agama tertentu dengan menggemborkan keterkaitan isu terorisme dan agama islam seharusnya menambah “list” kecurigaan kita, bahwa bangsa ini memang ingin dijayakan tanpa adanya ketuhanan. Semenjak zaman penjahan dahulu, umat islam adalah umat yang paling lantang melawan apa yang kita sebut kolonialisme tersebut. Tetapi saat ini, umat islam ‘dituduh’ sebagai makar ketakutan di Indonesia (khususnya) dan didunia (umumnya). Apakah itu logis?  Tentu kita tidak akan pernah lupa dan jangan sampai lupa, agama mana yang melawan penjajahan hingga titik darah penghabisan di indonesia ini, dan agama mana yang menjajah bangsa kita.

Sayang nya, musuh-musuh anti-agama tersebut menjalankan rencana yang sangat matang, sangat tersusun rapi dengan menjauhkan penganut agama islam (mayoritas) dari agamanya dengan mengiming-imingkan dunia didalamnya. Dan kebanyakan muslimin pun tergiur dan mengikuti hal tersebut. Sehingga 85% dari muslimin Indonesia saat ini, kebanyakan hanya mengaku beragama namun belum berketuhanan. Dan perancang gerakan ini pun, tersenyum simpul melihat rencana untuk menjadikan bangsa kita “jaya tanpa berketuhanan” berjalan dengan sangat baik, tanpa cacat. Masyaallah!. Melihat ini saya jadi teringat hadits Nabi Muhammad Saw. Rasulullah pernah bersabda : “adakalanya suatu saat nanti kalian akan menjadi hidangan yang akan diserbu oleh lawan-lawan kalian”, lalu sahabat bertanya : “wahai nabi, apakah saat itu jumlah kami sedikit?”. Rasulullah bersabda : “Tidak, bahkan saat itu kalian adalah mayoritas. Namun saat itu kalian seperti buih dilautan yang luas. Saat itu Allah akan menjadikan musuh-musuh kalian, tidak takut sedikitpun akan banyaknya kalian. Hal itu disebabkan karena penyakit wahani”. Sahabat bertanya : Ya Rasul, apakah itu penyakit wahani?”. Rasulullah bersabda : “Penyakit terlalu mencintai dunia!”.

Begitu rusaknya ideologi kita saat ini. Sangat rusak. Lantas hal apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan keadaan bangsa ini?

Saya berpendapat sekaligus menegaskan dan mengajak, marilah kita kembali kepada ideologi kita, ideologi  pancasila. Didalam ideologi kita sendiri, telah disebutkan bahwa kita harus “berketuhanan yang maha esa”. Dalam menjalani hidup, perlulah perasaan bahwa kita selalu diawasi oleh Tuhan kita. Tidak penting agama yang engkau anut!. Tapi jalanilah agama mu itu dengan sebaik-baiknya, dan jalankanlah toleransi. Toleransi bukan berarti aku beribadah dimasjid, engkau yang beragama nasrani beribadah dimasjid. BUKAN. Itu namanya pemaksaan. Toleransi adalah aku tidak mengganggu agamamu, dan engkau tidak mengganggu agamaku, dan kita saling tolong-menolong dalam kebaikan. Cukuplah kita bersatu karena kita membela tanah air yang sama, kita bersama membela sumber daya alam yang dilimpahkan tuhan untuk kita. Itulah toleransi namanya. Kami umat islam tidak memerlukan khilafah atau lainnya di Indonesia ini. Cukuplah Ideologi Pancasila yang kita jalankan. Tapi pastikanlah untuk menjalankannya tidak setengah-setengah. Ideologi yang dibangun atas pemikiran tokoh-tokoh besar yang memiliki ideologi berbeda, namun dapat memayungi seluruh bangsa Indonesia. Itulah pancasila kita. Namun kita semua masih saja bisa dibodoh-bodohi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan, sehingga kita yang tadinya dipersatukan karena pancasila, diadu domba agar kita bersama-sama menghancurkan negara ini. Teruslah kita bersama-sama bercermat diri dan memperhatikan yang benar serta salahnya negara ini, kita bukan bangsa bodoh lagi. Dan marilah berbenah diri, mungkin ada ibrah yang dapat diambil setelah hal ini terlewati.



Rabu, 18 Januari 2017

BENARKAH RAKYAT INDONESIA SUDAH CERDAS?



BENARKAH RAKYAT INDONESIA SUDAH CERDAS?
(dikutip dari buku :”REPUBLIK BOHONG” karya : A.M. Waskito)

Apakah rakyat Indonesia telah cerdas? Inilah pertanyaan yang paling banyak dipertanyakan dinegeri ini. Banyak yang berkata : “3,5 abad sebelum kita merdeka, kita adalah negara bodoh, rakyat-rakyat pribumi tidak bersekolah. Yang bisa bersekolah kalau tidak kasta I (Warga Belanda), kalau tidak kasta II (Orang cina,  india, pedagang-pedagang sukses, anak bupati, anak kepala pemerintahan kala itu). Jangankan untuk belajar menghitung, untuk baca-tulis pun tidak bisa.” Lalu sekarang bagaimana? Apakah dengan keadaan sekarang, dimana anak-anak Indonesia telah mampu menyabet medali-medali emas dalam kejuaraan internasional, dapat disebut bahwa rakyat Indonesia telah cerdas? Sama saja rasanya antara 3,5 abad sebelum merdeka dengan sekarang. Kalau dahulu baca-tulis, hitung-menghitung adalah salah satu indikator hal yang menakjubkan, maka dizaman sekarang salah satu indikator hal yang menakjubkan adalah seseorang dapat menemukan teknologi yang terbarukan. Dan sama saja, rakyat indonesia masih saja tertinggal dari negara lainnya sehingga dapat diindikasikan rakyat indonesia masih lemah akan wawasan, kesadaran dan pengetahuan sehingga Indonesia saat ini, kurang lebih sama seperti 350 tahun yang lalu. Dan realitanya yang terjadi saat ini bangsa kita masih saja menilai kemungkaran adalah sebuah kebenaran, dan sebuah kebenaran adalah sebuah kemungkaran, menandakan akan kurang cerdasnya kita. (Contohnya terkait FPI, aksi damai, aksi tandingan, dll akhir-akhir ini, red-).

Masih banyak indikator lain terkait hal ini, yaitu :
  1. Para Ahli menyebut orang Indonesia memiliki memori yang sangat pendek, bahkan Menteri Ekonomi saat ini, Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa Indonesia memiliki short memory lost
  2. Pada tahun 2009, Max Sopachua (Tim sukses SBY kala itu) mengatakan : “Masyarakat tidak tahu menahu soal NEOLIB yang hanya rakyat tahu hanyalah BLT, sekolah gratis, kesehatan gratis dsb. *coba pembaca search, apasih itu Neolib, barangkali tidak tahu juga*
  3. Banyak tokoh-tokoh nasional yang mengatakan kelemahan indonesia hanya dua : Kelemahan Ekonomi dan Kebodohan. (Tapi bagi saya saat ini, kelemahan kita ada 3, ditambah Ketiadaan nilai Kepercayaan dan Moral)
  4. Menurut Indeks kualitas hidup manusia yang dikeluarkan UNDP, Indonesia berada pada urutan ke-112 bersaing dengan negara yang baru akan bangkit, seperti laos, myanmar, kamboja
  5. Potensi peminat pembaca di Indonesia hanya 0,5 % dari total penduduk negara Indonesia, jadi berkisar sejuta orang yang suka membaca. Padahal dinegara maju seperti eropa, membaca adalah hal yang harus dilakukan. Tiada membaca, tiada mendapat informasi. 
  6. Dalam perpolitikan, masyarakat Indonesia masih bisa disogok dengan uang untuk memilih pemimpin A. Padahal itu hanya semu belaka, tiada arti.
  7. Sebagian besar masyarakat Indonesia terkena penyakit Minder yang akut. Mereka malu untuk menjadi dirinya sendiri, dan lebih meniru bule dan sok kebarat-baratan 
  8.  Di Indonesia tidak pernah terjadi gerakan rakyat semesta. Contohnya saja dalam Gerakan Anti G30SPKI yang terlibat hanya mahasiswa, santri dan militer, nah yang lain kemana? Tentu memposisikan diri mereka menjadi “konsumen”. Sehingga lebih suka menunggu hasil dari pada menjadi pionir pergerakan.
  9. Rakyat Indonesia senang menjadi PNS, bisa dianggap PNS adalah “The Indonesian Dream”, “Mimpi orang-orang Indonesia kebanyakan”
  10. Banyak yang mengaku untuk melawan korupsi. Tetapi kalau mereka diberi jabatan, ternyata mereka melakukan korupsi  yang sama. Bahkan bisa lebih gila dari koruptor sebelumnya, jadi koruptor itu hanya perbedaan soal kesempatan. alangkah mengerikan!
  11. Setelah merdeka dari kolonial Eropa dan Asia ternyata bangsa Indonesia tidak benar-benar merdeka. Kita menghadapi apa yang disebut Neo-Colonialism dengan cara mengeruk-ngeruk kekayaan negara kita sampe tidak tersisa.
Sehingga sudah seharusnya kita untuk sadar, bahwa apa yang kita sebut cerdas saat ini, ternyata kita sangat tertinggal jauh. Belum lagi terhadap birokrat-birokrat, politikus-politikus yang mengacaukan, membuat kerusuhan di negeri ini,asing dan aseng yang menguasai negara ini membuat kita lebih bodoh lagi. Dengan asing, saat ini kita layaknya tuan haji yang memiliki tanah, namun orang lain menyewa tanahnya lantas dibangun p abrik. Nah tuan haji tadi, hanya mendapatkan setoran tanahnya saja, sedangkan orang lain tersebut mendapatkan nikmat dari pabrik yang dibangun. Sedang limbah dari pabrik berserakan di tanah tuan haji. Yang lebih disayangkan adalah orang lain tersebut, menyebarkan pengaruh-pengaruh buruk dilingkungan sekitar tanah tersebut. Sehingga terpengaruhlah yang dilingkungan tersebut. Alangkah meruginya kita sebagai tuan haji. Oleh karenanya,  mari bersama-sama kita selalu belajar tentang bangsa ini, peduli terhadap birokrasi negeri ini, perpolitikan negeri ini, keadaan negeri ini dan juga peduli terhadap kebangsaan, terhadap kebhineka-an jangan ada intervensi dari setiap golongan (entah mengapa minoritas saat ini merasa lebih superior daripada mayoritas), jangan mudah diadu domba (pada dasarnya, ini adalah bangunannya “Neo-colonialism, Neolib”),dan terpenting adalah jangan tinggalkan kepercayaan apapun yang engkau anut, terutama muslim. Karena kitalah benteng terakhir bangsa ini, apabila seluruh umat islam berfahamkan “sekuler” di Indonesia ini, bukan tidak mungkin Komunis akan menjadi hal yang dominan, bahkan menjadi isme nomer satu di Indonesia ini. Cerdaskan lah diri, cerdaskanlah hati, dan cerdaskanlah moral. Insyaallah negerin ini menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allahumma aamiin.