Minggu, 02 Oktober 2016

Azas Senioritas dalam Islam

   Azas senioritas adalah azas yang saat ini banyak dianut oleh organisasi-organisasi, komunitas-komunitas, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Alqur’an secara tersirat menyampaikan pandangan terhadap azas senioritas, yaitu didalam surah al-baqarah ayat 34 :

   “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.

  Kemudian disambung dalam surah al a’raf ayat 12, terjadi “dialog” antara Allah Swt dan Iblis yang menolak,

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah. 

  Iblis menyebutkan bahwa dia merasa lebih baik dibandingkan manusia. Ya merasa lebih baik dalam segala aspek, termasuk didalamnya tentang iblis adalah makhluk yang lebih dahulu diciptakan oleh Allah dibandingkan manusia.

  Dewasa ini, azas senioritas yang kita anut seringlah mengarah kepada sifat iblis yang disebutkan didalam Alqur’an. Terkadang ketika berposisi sebagai seorang senior ataupun seorang yang berjabatan tinggi, amat seringlah terfikirkan oleh kita “Aku adalah senior dan harus dihormati oleh nya”, “Aku adalah seorang yang berpengalaman dan mereka harus menghormati aku”, “mengapa dia yang dipilih, bukankah aku adalah seniornya” dan pemikiran lainnya. Jadilah ia  orang yang berfikiran sebagai seorang yang Sombong, takabur, iri, ujub, dan membangga-banggakan apa yang dimilikinya.

  Sedari sekarang berhentilah untuk berfikiran yang demikian, karena sesungguhnya yang terbaik disisi Allah adalah yang lebih banyak berbuat kebaikan, dan yang bertakwa.

  Sesungguhnya derajat kemuliaan seseorang tiada dapat dinilai dari senior ataupun jabatan yang diembannya. Adalah kiranya derajat kemuliaan dinilai dari keuletan dan kesigapannya dalam bertindak, kecerdasan dan kritisnya dalam berfikir, serta yang terpenting adalah bagaimana sifat dan budi pekertinya sehari-hari. Kejujuran, kecerdasan, kebijaksanaan, kelembutan, kerendah-hatian, dan sifat baik lainnya, hal itu yang menandakan perbedaan derajat kemuliaan manusia. “Seorang buruh yang berakhlak dan berbudi serta berakidah baik maka lebih disenangi daripada seorang raja yang nista akhlak, budi dan akidahnya.”

  Lantas apakah islam tiada mengenal azas senioritas? Bukankah dengan tiada mengenal azas senioritas, maka tiadalah terciptanya hubungan yang baik antara seorang ayah dengan anaknya, tidak ada tercipta hubungan yang baik antara guru dengan muridnya dan dapat mengacaukan kehidupan bermasyarakat didunia apabila islam memimpin negara didunia?
Nah jangan bersu-udzan dahulu sebab didalam islam memiliki “azas senioritas” nya tersendiri. Didalam islam sendiri, azas senioritas itu tidak identik dengan kasta-kasta. Yang mana dengan kasta-kasta (baik jabatan/usia) tersebut, status sosial seseorang selama hidupnya ditentukan. 

  Jadi bagaimanakah azas senioritas dalam islam?

  Kalau lah kita simak cerita berikut, maka akan kita temukanlah azas senioritas didalam syari’at islam. Kisah ini adalah kisah tentang seorang panglima muda yang dipilih oleh Rasulullah Saw, yaitu Usamah ibn Zaid.

  Usamah ibn Zaid adalah putra dari Zaid ibn Haritsah, anak angkat Rasulullah Saw. Sejak kecil, Rasulullah telah menyayangi Usamah ibn Zaid dan memanggilnya “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (Kesayangan anak Kesayangan). Ketika menginjak usia remaja, sifat-sifat dan budi pekerti nya yang mulia mulai terlihat dan pantas menjadikannya sebagai seorang kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, serta takwa dan wara. Dia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela.

  Pada usinya yang belum mencapai 20 tahun, Usamah diangkat oleh Rasulullah sebagai panglima perang. Maka, bertindaklah Umar bin Khatthab yang segera menemui Rasulullah. Beliau sangat marah, lalu bergegas mengambil sorbannya dan keluar menemui para sahabat yang tengah berkumpul di Masjid Nabawi. Rasul Saw bersabda:

“Wahai sekalian manusia, saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Kalau ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga adalah sebaik-baik manusia di antara kalian.”

  Padahal yang dipimpin oleh Usamah bukanlah orang-orang yang jauh lebih muda daripada nya, akan tetapi yang lebih tua dan dirasa lebih pantas untuk memegang kendali sebagai seorang panglima perang seperti Abu Bakr as-shidiq, Umar ibn Khattab, Saad ibn Abi Waqqas dll. Setelah Rasul wafat, Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik menjadi khalifah –pengganti kepemimpinan kaum Muslim. Usamah tetap menjadi panglima perang kaum Muslim. Beberapa sahabat mengusulkan Usamah yang masih muda belia itu dilengserkan dari jabatan panglima. Kata mereka, “…Kami mengusulkan panglima pasukan (Usamah) yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.

  Ucapan itu disampaikan Umar bin Khatab kepada Abu Bakar. Sang Khalifah pun berkata kepada Umar dengan nada tinggi (marah): “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasulullah. Demi Allah, tidak ada cara begitu!”

  Umar dan para sahabat mematuhi keputusan Abu Bakar. Ketika berangkat perang, pasukan Muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, sedangkan Usamah menunggang kendaraan. Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. “

  Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fi sabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau (Islam), kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”

  Kemudian dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah.”

  Kemudian, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya.

  Ibrah yang dapat kita ambil adalah bahwasanya senioritas bukanlah aspek penentu untuk dimuliakannya seseorang. Jikalau lah ingin dihormati dan dimuliakan tidaklah cukup didapat dengan hanya perbedaan usia dan merasa diri lebih senior, namun mulailah merubah perilaku menjadi perilaku yang lebih mulia. 
  Dunia ini sangatlah seimbang. Seperti halnya yang kaya berkewajiban membantu yang miskin, dan yang miskin berkewajiban berusaha dan tiada mengharap dari si kaya, sehingga timbul suatu keseimbangan. 

 Azas senioritas didalam islam-pun memakai sistem keseimbangan tadi, yang senior/berjabatan berkewajiban lah menyayangi yang mudanya dengan cara memberikan cerita pengalaman, ilmu dunia wal akhira, dan hal-hal yang dibutuhkan oleh yang muda tanpa ‘mengemis’ hormat dari yang muda dan jagalah pribadi diri, jangan berlebih-lebihan. Ingatlah bahwa senior itu adalah “contoh” dari juniornya. 

  Yang muda berkewajiban menghormati orang yang lebih tua darinya atau disebut seniornya, ambillah beberapa ibrah yang terdapat padanya, bantulah dia sedang dia membutuhkan bantuan, dan janganlah bersikap berlebih-lebihan walaupun dianggapnya seniornya lebih rendah ilmunya darinya. Sebab seberapa pun besar ilmu tiada berguna kalau tiada memakai etika. 

  Yang tua memikirkan kebahagiaan kaum muda dimasa mendatang, dan yang muda memikirkan kebahagiaan kaum tua dimasa ini, sehingga dengan azas senioritas tersebut, kehidupan bermasyarakat insyaallah menjadi tentram. Sama halnya seorang ayah memikirkan cara menyenangkan anaknya, dan anaknya memikirkan bagaimana cara membahagiakan ayahandanya,ah alangkah romantisnya.

Wallahu ‘alam



              panglima-perang-termuda-kesayangan-rasulullah-saw/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar