Jihad
saat ini acapkali disalah artikan oleh orang-orang. Teroris yang membunuh
dirinya sendiri digedung-gedung tinggi nan ada diperkotaan pun, dianggap
sebagai seorang Mujahid. Sehingga adalah jihad sering diartikan sebagai
keburukan seorang muslimin dalam membinasakan umat manusia. Begitulah kira-kira
hal yang tertanam bagi mereka yang tiada mengetahui, hakikat akan jihad
tersebut.
Jihad
berarti kesungguhan, kerelaan hati, kerja keras dari dalam diri untuk mencapai
suatu tujuan yang mulia. Dimisalkan bahwa, seseorang ingin merubah moral bangsa
Indonesia, maka dia belajar dengan ekstra keras, bagaimana cara merubah moral
seseorang dimulai dari lingkup kecil hingga lingkup besar, bagaimana cara
mendidik mereka agar mau berubah, dan senantiasa tetap pada perubahan tersebut.
Belajarnya orang tersebut, itulah yang dinamakan jihad. Orang yang tiada pernah
sedikitpun melakukan jihad, tentu tiada unsur ghirah didalam hatinya. Jadi,
jihad terlahir karena ada ghirah didalam hatinya.
Lantas
apa itu ghirah?
Ghirah
adalah kecemburuan seseorang terhadap suatu hal, jikalau didalam islam, ghirah
adalah kecemburuan terhadap sesuatu hal yang baik. Misalnya seseorang melihat
temannya begitu baik dan perhatian, sehingga muncul ghirah didalam hatinya, aku
harus lebih baik daripada orang ini. Misalnya lagi, berita hangat-hangatnya
yaitu penistaan alqur’an oleh salah seorang pejabat tinggi. Maka umat muslim
yang marah, itu adalah orang yang memiliki ghirah dihatinya. Dia cemburu,
mengapa pejabat tinggi tersebut berani-beraninya menghina apa yang begitu
dicintainya.
Itulah
yang dinamakan ghirah. Ghirah bukan identik terhadap marah dengan cara
anarkis, dendam dan sifat-sifat buruk lainnya. Ghirah lebih identik menuju
kepada, menuntut keadilan, kesopanan, kebaikan, menyeru pada yang ma’ruf dan
mencegah daripada yang munkar. Itu Ghirah. Ghirah dengan iri adalah hampir sama
sifatnya, namun lain tujuan dan maksudnya.
Tetapi
mengapa jihad pada nabi Muhammad identik dengan peperangan dan pertumpahan
darah?
Karena
pada zaman nabi Muhammad dengan peperangan dan pertumpahan darah tersebut lah,
kebaikan dapat ditegakkan. Dengan peperangan dan pertumpahan darahlah, umat
islam dapat duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan bangsa dan kerajaan
lainnya. Meskipun dengan peperangan dan pertumpahan darah dapat kebaikan
ditegakkan, tetapi nabi Muhammad tidak serta merta memerangi setiap bangsa pada
zamannya. Nabi Muhammad lebih condong kepada kedamaian, namun ketika kedamaian
dikhianati maka peperangan tersebut yang menanti. Begitu banyak
munafikin-munafikin, musyrikin, dan kafirun yang mengkhianati perdamaian pada
masa itu. Sehingga jikalaulah mulut telah lelah berbicara, maka pedanglah yang
akan mengambil alih semuanya.
Tiadalah
pernah kita mendengar bahwa suatu negara islam, membantai orang-orang
non-muslim kecuali non-muslim mencoba melakukan pemberontakan/bughat dan pengkhianatan. Itu pun,
mereka diusir terlebih dahulu.Namun acapkali kita mendengar bahwa, negara
mayoritas non-muslim membantai muslim yang ada didalamnya tanpa alasan yang
jelas.
Itu
lah perbedaan dahulu dengan sekarang. Jikalaulah dahulu perang adalah sarana
yang harus dilakukan untuk mencapai kebaikan, walaupun saat itu kaum muslimin
sangat berat untuk melakukannya, namun sekarang kita tiada perlu menggunakan
senjata-senjata untuk menghancurkan lawan-lawan tersebut.
Pemikiran
yang dihasilkan dari kebenaran-kebenaran yang terdapat didalam alqur’an dan
sunnah serta buku-buku yang mengajarkan tentang syari’at islam ini yang akan
menjadi pedoman kaum muslimin seluruhnya. Pemikiran yang menghasilkan
kesinergi-an antara kecerdasan moral,
kecerdasan spiritual,serta kecerdasan intelektual. Karena saat ini, perang
dengan menggunakan kontak fisik adalah aib bagi setiap manusia yang
melaksanakannya, dicap sebagai upaya kebodohan oleh orang yang melakukannya.
Karena tidak sesuai lagi dengan zamannya. Maka saat ini berperang lah dengan
pemikiran. Bukan dengan siapa yang paling kuat ototnya, paling banyak
senjatanya, akan tetapi siapa paling cerdas pemikirannya, paling baik
akhlaknya, paling santun moralnya, paling gesit strateginya dan paling tinggi
daya kreativitasnya. Itu lah peperangan yang dihadapi umat ini.
Namun,
bukan berarti kekuatan fisik yang ada di
raga itu dibiarkan lemah begitu saja. Itu adalah sarana yang paling dibutuhkan
jikalaulah, perang fisik akan terulang kembali sebagai penentu kemenangan
sebuah kebenaran. Oleh karenanya nabi bersabda : “ajarkanlah olehmu anak-anakmu
untuk berenang, memanah dan berkuda”.
Jihad tersebutlah yang harus diperjuangkan umat saat ini. Percayalah jikalaulah engkau mati dalam keadaan berjihad dijalan Allah, semerbaknya harum
surga akan menanti di akhirat sana. Maka untuk mendapatkan itu semua, adalah
satu jawabannya. Kembalilah ke hakikat islam yang sebenarnya.
Sumber : Berbagai Sumber