Senin, 12 Desember 2016

JIHAD

Jihad saat ini acapkali disalah artikan oleh orang-orang. Teroris yang membunuh dirinya sendiri digedung-gedung tinggi nan ada diperkotaan pun, dianggap sebagai seorang Mujahid. Sehingga adalah jihad sering diartikan sebagai keburukan seorang muslimin dalam membinasakan umat manusia. Begitulah kira-kira hal yang tertanam bagi mereka yang tiada mengetahui, hakikat akan jihad tersebut.

Jihad berarti kesungguhan, kerelaan hati, kerja keras dari dalam diri untuk mencapai suatu tujuan yang mulia. Dimisalkan bahwa, seseorang ingin merubah moral bangsa Indonesia, maka dia belajar dengan ekstra keras, bagaimana cara merubah moral seseorang dimulai dari lingkup kecil hingga lingkup besar, bagaimana cara mendidik mereka agar mau berubah, dan senantiasa tetap pada perubahan tersebut. Belajarnya orang tersebut, itulah yang dinamakan jihad. Orang yang tiada pernah sedikitpun melakukan jihad, tentu tiada unsur ghirah didalam hatinya. Jadi, jihad terlahir karena ada ghirah didalam hatinya. 

Lantas apa itu ghirah?
Ghirah adalah kecemburuan seseorang terhadap suatu hal, jikalau didalam islam, ghirah adalah kecemburuan terhadap sesuatu hal yang baik. Misalnya seseorang melihat temannya begitu baik dan perhatian, sehingga muncul ghirah didalam hatinya, aku harus lebih baik daripada orang ini. Misalnya lagi, berita hangat-hangatnya yaitu penistaan alqur’an oleh salah seorang pejabat tinggi. Maka umat muslim yang marah, itu adalah orang yang memiliki ghirah dihatinya. Dia cemburu, mengapa pejabat tinggi tersebut berani-beraninya menghina apa yang begitu dicintainya.

Itulah yang dinamakan ghirah. Ghirah bukan  identik terhadap marah dengan cara anarkis, dendam dan sifat-sifat buruk lainnya. Ghirah lebih identik menuju kepada, menuntut keadilan, kesopanan, kebaikan, menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah daripada yang munkar. Itu Ghirah. Ghirah dengan iri adalah hampir sama sifatnya, namun lain tujuan dan maksudnya.

Tetapi mengapa jihad pada nabi Muhammad identik dengan peperangan dan pertumpahan darah?

Karena pada zaman nabi Muhammad dengan peperangan dan pertumpahan darah tersebut lah, kebaikan dapat ditegakkan. Dengan peperangan dan pertumpahan darahlah, umat islam dapat duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan bangsa dan kerajaan lainnya. Meskipun dengan peperangan dan pertumpahan darah dapat kebaikan ditegakkan, tetapi nabi Muhammad tidak serta merta memerangi setiap bangsa pada zamannya. Nabi Muhammad lebih condong kepada kedamaian, namun ketika kedamaian dikhianati maka peperangan tersebut yang menanti. Begitu banyak munafikin-munafikin, musyrikin, dan kafirun yang mengkhianati perdamaian pada masa itu. Sehingga jikalaulah mulut telah lelah berbicara, maka pedanglah yang akan mengambil alih semuanya.

Tiadalah pernah kita mendengar bahwa suatu negara islam, membantai orang-orang non-muslim kecuali non-muslim mencoba melakukan pemberontakan/bughat dan pengkhianatan. Itu pun, mereka diusir terlebih dahulu.Namun acapkali kita mendengar bahwa, negara mayoritas non-muslim membantai muslim yang ada didalamnya tanpa alasan yang jelas.

Itu lah perbedaan dahulu dengan sekarang. Jikalaulah dahulu perang adalah sarana yang harus dilakukan untuk mencapai kebaikan, walaupun saat itu kaum muslimin sangat berat untuk melakukannya, namun sekarang kita tiada perlu menggunakan senjata-senjata untuk menghancurkan lawan-lawan tersebut.

Pemikiran yang dihasilkan dari kebenaran-kebenaran yang terdapat didalam alqur’an dan sunnah serta buku-buku yang mengajarkan tentang syari’at islam ini yang akan menjadi pedoman kaum muslimin seluruhnya. Pemikiran yang menghasilkan kesinergi-an antara  kecerdasan moral, kecerdasan spiritual,serta kecerdasan intelektual. Karena saat ini, perang dengan menggunakan kontak fisik adalah aib bagi setiap manusia yang melaksanakannya, dicap sebagai upaya kebodohan oleh orang yang melakukannya. Karena tidak sesuai lagi dengan zamannya. Maka saat ini berperang lah dengan pemikiran. Bukan dengan siapa yang paling kuat ototnya, paling banyak senjatanya, akan tetapi siapa paling cerdas pemikirannya, paling baik akhlaknya, paling santun moralnya, paling gesit strateginya dan paling tinggi daya kreativitasnya. Itu lah peperangan yang dihadapi umat ini.

Namun, bukan berarti kekuatan fisik  yang ada di raga itu dibiarkan lemah begitu saja. Itu adalah sarana yang paling dibutuhkan jikalaulah, perang fisik akan terulang kembali sebagai penentu kemenangan sebuah kebenaran. Oleh karenanya nabi bersabda : “ajarkanlah olehmu anak-anakmu untuk berenang, memanah dan berkuda”.

 Jihad tersebutlah yang harus diperjuangkan umat saat ini. Percayalah jikalaulah engkau mati dalam keadaan berjihad dijalan Allah, semerbaknya harum surga akan menanti di akhirat sana. Maka untuk mendapatkan itu semua, adalah satu jawabannya. Kembalilah ke hakikat islam yang sebenarnya.

Sumber : Berbagai Sumber